Soppeng, Rajapena.com, Proyek pembangunan fasilitas pendidikan dan asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 di Kabupaten Soppeng senilai sekitar Rp276 miliar kembali mendapat sorotan. Hingga batas akhir kontrak, sejumlah bagian pekerjaan ternyata masih belum rampung dan membutuhkan pembenahan.
Kondisi tersebut terlihat saat Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng turun langsung meninjau progres pembangunan, Senin sore (31/8/2026).
Bukan hanya melihat dari luar, Suwardi berjalan kaki dari satu gedung ke gedung lainnya untuk memeriksa kondisi fasilitas secara langsung. Jarak antar bangunan yang cukup berjauhan tidak menghalangi Bupati mengecek setiap bagian proyek.
Dalam peninjauan itu, sejumlah catatan langsung disampaikan. Mulai dari taman yang belum siap, taman bermain yang belum ada, ketersediaan air, drainase, pemasangan loster yang kurang rapi, tangga yang tidak rapi hingga aspek keselamatan dan kualitas pengerjaan bangunan.
Suwardi menegaskan, proyek tidak bisa dianggap selesai jika masih ada bagian pekerjaan yang belum benar-benar siap digunakan.
“Kalau pekerjaan sudah selesai berarti tidak ada lagi kegiatan,” tegasnya.
Taman Belum Tumbuh, Asrama Belum Beres
Bupati mempertanyakan kondisi taman yang seharusnya sudah ditanami dan mulai tumbuh. Demikian pula taman bermain yang menurutnya sudah harus tersedia ketika proyek memasuki tahap akhir.
Ketersediaan air juga menjadi persoalan penting. Menurut Suwardi, sekolah dan asrama tidak boleh digunakan apabila kebutuhan dasar siswa belum benar-benar siap.
Untuk asrama siswa SD, fasilitas laki-laki dan perempuan disebut sudah sebagian selesai. Namun asrama untuk siswa SMP dan SMA masih terlihat dalam proses pengerjaan.
Sementara itu, gedung SMA dinilai sudah cukup memungkinkan untuk difungsikan.
Alat Pemotong Jangan Sampai Membahayakan Siswa
Persoalan keselamatan turut menjadi perhatian serius.
Bupati menyoroti keberadaan mesin pemotong rumput serta peralatan pemotong lainnya yang dinilai berpotensi membahayakan siswa dan siswi apabila tidak ditempatkan dengan aman.
Menurutnya, lingkungan sekolah harus dipastikan aman sebelum ditempati.
Jangan sampai fasilitas yang seharusnya mendukung proses pendidikan justru menyimpan potensi bahaya bagi siswa.
Loster Kasar hingga Tangga Dikritik
Kualitas pekerjaan menjadi salah satu sorotan paling keras dalam peninjauan tersebut.
Suwardi menilai pemasangan loster di sejumlah bagian bangunan terlihat kasar. Ia meminta bagian tersebut dibenahi agar hasil akhirnya lebih rapi.
Tangga juga tidak luput dari kritik. Bupati menilai hasil pengerjaan tangga tidak lurus dan kurang rapi.
Ia bahkan mempertanyakan kemampuan tenaga yang mengerjakan bagian tersebut.
“Kalau tukang, ya tukang kelas tiga,” ujar Suwardi.
Selain tangga dan loster, beberapa sudut dinding juga dinilai belum dikerjakan secara rapi.
Bupati menegaskan proyek dengan nilai ratusan miliar rupiah semestinya menghasilkan bangunan dengan kualitas yang sebanding.
Drainase dan Sanitasi Ikut Diperiksa
Drainase juga menjadi catatan. Suwardi meminta saluran air dikerjakan secara serius, terutama karena musim hujan harus diantisipasi sejak awal.
Menurutnya, bangunan tidak cukup hanya terlihat bagus saat selesai. Sistem pendukungnya juga harus mampu berfungsi dengan baik.
Fasilitas sanitasi turut diperhatikan. Bupati menyoroti penggunaan kloset duduk merek Toto yang disebut sebagai pilihan dengan harga paling murah.
Hal tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap spesifikasi fasilitas yang digunakan dalam proyek.
“Jangan asal saja, laksanakan secepatnya,” tegasnya.
Kontrak Berakhir, Siswa Belum Boleh Masuk Asrama
Proyek tersebut diketahui memiliki batas akhir kontrak pada 31 Agustus 2026. Padahal sebelumnya pekerjaan ditargetkan selesai pada Juli 2026.
Suwardi menegaskan, setelah batas kontrak berakhir, tidak boleh lagi ada pekerjaan yang tertinggal.
Ia juga memastikan siswa-siswi belum akan masuk dan menempati asrama sebelum seluruh pekerjaan benar-benar selesai.
“Dua hari setelah pekerjaan selesai, baru siswa-siswi bisa masuk asrama,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan agar keterlambatan tidak kembali terjadi.
“Molor lagi tidak bisa hanya sepuluh hari,” ujarnya.
Suwardi memastikan akan kembali melakukan pengecekan untuk melihat sejauh mana seluruh catatan yang disampaikannya telah ditindaklanjuti.
“Kualitas harus diperhatikan,” tekan Bupati.
Tutup Peninjauan dengan Salat Magrib Bersama Siswa
Setelah melakukan pemeriksaan proyek, Suwardi melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Sekolah Rakyat.
Usai salat, Bupati menyaksikan siswa-siswi makan malam bersama. Suasana pun berlangsung lebih hangat. Sejumlah siswa bahkan menghampiri Suwardi untuk bersalaman dan mencium tangannya dengan wajah penuh kegembiraan.
Dalam peninjauan tersebut, Bupati didampingi Kepala Dinas Sosial, pihak Waskita Purnawan, Staf Ahli Sainul, serta Kepala Sekolah SRT Arni, S.Pd., M.Pd.
Ketua LSM SIDIK Mahmud turut hadir menyaksikan langsung peninjauan dan evaluasi progres pembangunan.
Dengan nilai proyek sekitar Rp276 miliar, pekerjaan SRT 46 kini memasuki fase krusial. Bukan sekadar mengejar selesai, tetapi memastikan seluruh fasilitas benar-benar layak, aman, rapi dan siap digunakan para siswa.
(Andi Asrul)
