Corak Lejja Diperkenalkan di Soppeng Berwastra 2026, Jadi Simbol Baru Wastra Berbasis Kearifan Lokal

Corak Lejja Diperkenalkan di Soppeng Berwastra 2026, Jadi Simbol Baru Wastra Berbasis Kearifan Lokal

Jumat, 22 Mei 2026


Soppeng, Rajapena.com, Upaya penguatan identitas budaya daerah kembali ditunjukkan melalui peluncuran Corak Lejja dalam ajang “Soppeng Berwastra 2026: Kemilau Sutra” yang dipusatkan di Taman Kalong, Rabu (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong pengembangan wastra lokal yang mengangkat nilai-nilai budaya serta kekayaan alam kawasan Lejja, Kabupaten Soppeng.


Peluncuran corak wastra tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digagas oleh IKALONG, yang selama ini aktif dalam pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Dalam kesempatan itu, para finalis Duta Budaya Soppeng 2026 turut ambil bagian dalam fashion competition dengan menampilkan karya busana berbahan wastra bermotif Corak Lejja.


Motif tersebut dirancang sebagai representasi visual yang menggambarkan karakter alam, sejarah, dan nilai-nilai budaya yang hidup di kawasan Lejja. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan estetika busana, tetapi juga membawa pesan pelestarian budaya kepada generasi muda.


Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara unsur pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, serta komunitas budaya dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Soppeng.


Pada rangkaian acara tersebut, dilakukan pula penandatanganan kerja sama antara PT Perseroda Lamataesso Mattappa dengan IKALONG. Kesepakatan ini mencakup pengembangan desain, produksi, serta perlindungan hak atas Corak Lejja sebagai produk wastra daerah.


Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan kepastian tata kelola produksi sekaligus membuka peluang pengembangan industri kreatif yang lebih luas, khususnya di sektor wastra dan desain berbasis budaya lokal.


Plt Direktur PT Perseroda Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, menyampaikan bahwa pengembangan kawasan Lejja tidak hanya diarahkan pada sektor pariwisata alam, tetapi juga pada penguatan identitas budaya yang melekat di dalamnya. Ia menilai Corak Lejja sebagai bentuk inovasi yang menggabungkan nilai tradisi dengan kreativitas modern.


“Lejja memiliki kekayaan alam sekaligus nilai budaya yang kuat. Melalui Corak Lejja, kami ingin menghadirkan identitas itu dalam bentuk karya yang bisa diterima masyarakat luas,” ujarnya.


Sementara itu, sambutan Bupati Soppeng yang dibacakan oleh Asisten III Setda Soppeng, Andi Ibrahim Harta, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah. Ia menyebut pelestarian budaya harus menjadi bagian dari pembentukan karakter dan jati diri generasi penerus.


“Generasi muda perlu memahami dan mencintai budaya daerahnya sendiri agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan zaman,” demikian pesan yang disampaikan.


Ketua TP PKK Kabupaten Soppeng sekaligus Ketua Dekranasda, Hj. Suwarni Suwardi, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia memberikan apresiasi atas konsistensi IKALONG dalam menghadirkan ruang kreatif yang mengangkat budaya lokal ke tingkat yang lebih luas.


Menurutnya, inisiatif ini menunjukkan bahwa budaya daerah dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya. Hal ini sekaligus menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Soppeng di masa depan.


Acara ini juga dihadiri oleh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi wanita, serta sejumlah kepala perangkat daerah, di antaranya Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas BKKBN, serta unsur Bhayangkari dan Persit Kartika Chandra Kirana.


Dengan peluncuran Corak Lejja dalam Soppeng Berwastra 2026, pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan berharap wastra ini dapat menjadi identitas baru yang tidak hanya memperkuat citra budaya Soppeng, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis lokal secara berkelanjutan di Sulawesi Selatan.


(Andi Asrul)