Soppeng, Rajapena.com, Suasana politik di Kabupaten Soppeng mendadak menjadi perhatian publik setelah kegiatan konsolidasi internal Partai Golkar Sulawesi Selatan berubah menjadi momen yang jauh lebih emosional dari sekadar agenda organisasi biasa.
Acara yang digelar pada Sabtu (16/5/2026) itu awalnya hanya dijadwalkan sebagai forum rutin konsolidasi DPD I Partai Golkar. Namun di luar dugaan, forum tersebut justru menghadirkan suasana hangat, penuh penghormatan, dan menjadi bahan pembicaraan luas di kalangan kader hingga masyarakat.
“Datang Tak Menambah, Tak Datangpun Tak Mengurangi, apalah saya !” Kalimat Sederhana yang Menggema.
Sorotan utama publik tertuju pada sosok tokoh senior partai, Supriansa, yang hadir dalam forum tersebut dengan sikap sederhana dan rendah hati.
Dalam suasana forum yang penuh keakraban, ia melontarkan pernyataan yang kemudian viral:
“Apalah saya ini… datang tak menambah, tak datang pun tak mengurangi.”
Kalimat singkat itu justru menjadi pusat perhatian karena dinilai mencerminkan sikap politik yang tidak biasa: merendah, namun sarat makna loyalitas.
Bagi banyak kader yang hadir, ucapan tersebut bukan sekadar pernyataan spontan, melainkan refleksi dari perjalanan panjang seorang kader yang pernah berada di puncak jabatan namun tetap memilih hadir dalam barisan tanpa tuntutan posisi.
Sejumlah peserta menggambarkan suasana forum saat itu jauh lebih hidup dari biasanya. Interaksi antar kader berlangsung intens, penuh salam, dialog, dan diskusi terbuka yang mencairkan suasana formal.
Bahkan beberapa kader menyebut, atmosfer pertemuan tersebut terasa seperti “mini Musyawarah Daerah (Musda)” karena kuatnya energi kebersamaan yang muncul di dalam ruangan.
Apresiasi juga datang dari Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhiddin M. Said, yang menilai kehadiran Supriansa sebagai bentuk loyalitas moral yang tidak semua kader bisa tunjukkan setelah tidak lagi menjabat.
Konsolidasi tersebut juga mempertemukan kader dari berbagai wilayah strategis di Sulawesi Selatan, mulai dari Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, hingga Bulukumba.
Namun yang membuat acara ini berbeda bukan hanya jumlah peserta atau formalitas agenda, melainkan nuansa kebersamaan yang terasa lebih personal dan emosional.
Di sela-sela acara, terlihat para kader saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan tentang masa depan organisasi. Suasana ini menciptakan kesan bahwa politik tidak selalu kaku, tetapi bisa menjadi ruang silaturahmi yang hangat.
Dari keseluruhan dinamika acara, banyak pihak menangkap pesan yang lebih dalam dari sekadar pertemuan politik.
Ada tiga hal yang kemudian menjadi refleksi:
Loyalitas kader tidak ditentukan oleh jabatan yang sedang dipegang.
Kebersamaan menjadi fondasi utama kekuatan partai.
Figur senior tetap memiliki peran moral dalam menjaga soliditas organisasi
Supriansa sendiri kembali menegaskan pandangannya bahwa apa yang ia lakukan tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan partai kepadanya.
“Kebersamaan dan kekompakan akan melahirkan kekuatan,” ujarnya menutup pernyataan.
Konsolidasi Partai Golkar Sulsel di Soppeng akhirnya tidak hanya tercatat sebagai agenda rutin organisasi, tetapi juga sebagai peristiwa yang menyentuh sisi emosional banyak pihak.
Di tengah kerasnya dinamika politik modern, momen sederhana seperti ucapan rendah hati seorang kader senior justru mampu menghadirkan resonansi yang luas di tengah masyarakat.
Dan dari Soppeng, pesan itu menyebar: bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang kebersamaan, kerendahan hati, dan rasa memiliki terhadap organisasi yang diperjuangkan bersama.
(Andi Asrul)
