Medan, Rajapena.com, Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Taqwa, Polonia, Medan, Rabu (18/3), menjadi momentum penting untuk mengingatkan umat Islam agar menjadikan bulan suci Ramadan sebagai sarana mempererat ukhuwah islamiyah sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Ramadan Mempererat Ukhuwah Islamiyah, Memperkokoh Persatuan Bangsa” itu, KH Ustaz Khumaidi Al Jabali, S.Pd.I menyampaikan bahwa salah satu hikmah besar dari Ramadan adalah terbiasanya umat melaksanakan salat tarawih berjamaah, yang di dalamnya terbangun semangat kebersamaan dan persaudaraan sesama muslim.
Menurutnya, ukhuwah islamiyah yang tumbuh melalui ibadah berjamaah semestinya tidak berhenti hanya di dalam masjid atau selama Ramadan saja. Nilai-nilai itu, kata dia, harus terus hidup dan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan pada bulan-bulan berikutnya.
“Mestinya di luar salat berjamaah ukhuwah islamiyah juga terjadi. Jadi bulan suci Ramadan selama sebulan ini harus berbekas sebagai bekal menjalani 11 bulan lainnya, baik itu ibadahnya, akhlaknya, ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah juga harus lebih ditingkatkan,” ujar Ustaz Khumaidi di hadapan jemaah.
Ia menegaskan, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan yang dijalani secara formal, melainkan sebuah proses pembinaan diri yang sangat berharga. Bahkan, ia mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah training spiritual yang seharusnya menghasilkan perubahan nyata pada diri setiap muslim.
Bagi orang yang benar-benar sukses menjalani Ramadan, lanjutnya, pasti akan tampak adanya peningkatan dalam berbagai aspek kehidupan. Setidaknya, seseorang akan mengalami pertambahan ilmu, penguatan iman, peningkatan kualitas ibadah, hingga perbaikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena Ramadan ini ibarat training. Orang yang sukses mengikuti Ramadan ini mestinya berubah, minimal tambah ilmu, tambah iman, tambah ibadah dan akhlaknya,” katanya.
Ustaz Khumaidi juga mengingatkan bahwa apabila setelah Ramadan tidak ada perubahan berarti dalam diri seseorang, maka hal itu patut menjadi bahan evaluasi. Menurutnya, bisa jadi Ramadan yang dijalani belum dihayati secara sempurna sehingga nilai-nilai pendidikan di dalamnya belum benar-benar membekas.
Dalam tausiyahnya, ia memaparkan sejumlah hikmah penting dari ibadah Ramadan, di antaranya puasa, salat tarawih berjamaah, dan zakat fitrah. Ketiganya, menurut dia, memiliki dimensi ibadah sekaligus dimensi sosial yang sangat kuat.
Tentang puasa, Ustaz Khumaidi menjelaskan bahwa ibadah tersebut melatih umat Islam agar mampu merasakan langsung bagaimana beratnya kondisi orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan kelaparan. Dari pengalaman menahan lapar dan dahaga itulah diharapkan tumbuh empati, kepedulian, dan keinginan untuk membantu sesama.
Dengan berpuasa, seseorang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga belajar memahami penderitaan orang lain. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa diharapkan mampu menumbuhkan jiwa sosial yang lebih kuat, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.
Selain menumbuhkan empati, puasa juga mengandung pelajaran penting tentang kejujuran dan kesabaran. Menurut Ustaz Khumaidi, dua nilai ini menjadi inti dari pembentukan karakter selama Ramadan.
“Hikmah lainnya dari berpuasa ialah melatih kejujuran dan kesabaran. Mestinya setelah bulan Ramadan berlalu dan kita tidak berpuasa lagi, kejujuran dan kesabaran ini tetap terbawa,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh rangkaian ibadah selama Ramadan tidak berhenti hanya sebagai seremoni tahunan, tetapi benar-benar melahirkan pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih peduli, lebih sabar, dan lebih jujur dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Ketua BKM Masjid Taqwa Polonia Medan, Munawar, mengatakan bahwa tema ukhuwah islamiyah yang diangkat dalam Safari Ramadan kali ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia sebagai bangsa yang multikultural dan heterogen. Menurutnya, dalam keragaman yang dimiliki bangsa ini, dibutuhkan nilai-nilai pemersatu yang terus dirawat dan diperkuat.
Ia menilai, Safari Ramadan bukan hanya sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempertemukan umat dalam semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
“Tema ukhuwah islamiyah sangat relevan dengan kondisi bangsa yang multikultural dan heterogen. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita membutuhkan perekat yang mampu menyatukan keragaman umat di Indonesia. Salah satu tindak konkret itu adalah Safari Ramadan yang kita laksanakan malam ini,” kata Munawar.
Kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah ini pun menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dakwah, pembinaan umat, dan semangat kebangsaan. Melalui kegiatan semacam ini, masyarakat tidak hanya diajak meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperluas kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Sekadar informasi, rangkaian Safari Ramadan 1447 Hijriah sebelumnya juga telah berlangsung dengan baik di Masjid Fail Khoir, Kampung Lalang, Jalan Gunung Krakatau 1, Kelurahan Rantau Laban, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi.
Dengan terselenggaranya rangkaian Safari Ramadan di berbagai daerah, diharapkan pesan-pesan keislaman yang menyejukkan, mempererat persaudaraan, dan memperkokoh persatuan bangsa dapat terus tersampaikan kepada masyarakat luas.
(Red/RZ)
