Soppeng, Rajapena.com, Sebuah cerita unik dan penuh sejarah terungkap dari Kabupaten Soppeng, terkait dengan pembangunan Rumah Jabatan Bupati di daerah itu sekitar 50 tahun yang lalu. Kisah ini bermula dari seorang kontraktor nama akrapnya Baharu yang mendapat kepercayaan membangun rumah jabatan dan secara tidak langsung menorehkan sejarah untuk anaknya yang bahkan belum lahir.
Saat batu pertama diletakkan atau pekerjaan awal pembangunan rumah jabatan dimulai, sang kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek tersebut membuat sebuah diskemi (tempat istirahat sederhana) di lokasi konstruksi untuk kenyamanan para pekerja dan dirinya sendiri.
Saat itu, istri kontraktor yang akrab disapa "hadia" sedang mengandung. Secara kebetulan, Bupati Soppeng pada masa itu, HA Made Ali (1965-1979) datang meninjau progres pembangunan. Melihat sang istri yang sedang hamil tua, sang Bupati lalu menyampaikan sebuah pesan yang berbekas.
"Kalau anakmu nanti lahir laki-laki, beri dia nama ‘Bangunan’ pesan Bupati Andi Made Ali kala itu. Beliau berujar agar si anak diberi nama “Bangunan” kalau dia perempuan panggillah dia nama Sri Sultan Pembangunan. agar menjadi pengingat sejarah bahwa dialah bagian dari awal berdirinya rumah dinas ini.
"Kasilah nama bangunan, agar menjadi sejarah di kemudian hari dan bangunannya akan tetap berdiri kokoh,begitu kurang lebih pesan sang Bupati, seperti yang diingat dalam cerita turun-temurun, ungkapnya kala itu.
Benar saja, tidak lama setelah kejadian itu, istri sang kontraktor melahirkan seorang anak laki-laki, pada 14 Maret 1975.
Menurut kisah yang beredar, untuk menghormati pesan Bupati, anak tersebut pun dinamai sesuai dengan pesan tersebut meski nama lengkap beliau saat ini di KTP Yunandar Setiawan yang akrab disapa BANGUNAN yang berdomisili di sebelah utara pasar Sentral Soppeng saat ini.
Namun ada ironi dalam cerita ini. Meski dilahirkan secara harfiah di pinggiran atau dalam naungan proyek rumah jabatan dan namanya pun abadi terkait dengan bangunan itu, dikisahkan bahwa selama 50 tahun hidupnya, Bangunan,sang anak kontraktor tidak pernah lagi menginjakkan kaki atau memasuki rumah jabatan yang menjadi awal kisah hidupnya ungkap Yunandar saat dikonfirmasi Jum'at (19/12/2025).
Rumah Jabatan Bupati Soppeng sendiri, yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, kini tidak hanya menyimpan fungsi administratif, tetapi juga memendam cerita kemanusiaan yang unik. Kisah tentang seorang Bupati yang visioner, seorang kontraktor pekerja keras dan seorang anak yang namanya terikat pada sejarah fisik sebuah bangunan pemerintahan.
Cerita ini menjadi bagian dari narasi sejarah lokal Soppeng yang sarat nilai, tentang bagaimana kehidupan pribadi warga biasa dapat bersinggungan dan diingat dalam perjalanan pembangunan sebuah daerah.
(Red)